3 WNI Positif Corona dan Gugurnya Mitos Orang Indonesia Kebal Corona

Posting Komentar

3 WNI Positif Corona dan Gugurnya Mitos Orang Indonesia Kebal Corona


Menteri Luar Negeri Retno Marsudi baru saja menyatakan bahwa tiga dari 78 kru WNI di kapal pesiar Diamond Princess, di Perairan Yokohama, positif terkena virus corona.
Sampai hari ini, sebelum pernyataan resmi menteri luar negeri kita, beredar luas mitos dan hoaks bahwa orang Indonesia kebal korona. Argumen yang dikemukakan dalam mitos dan hoaks itu, antara lain bahwa orang Indonesia sudah biasa dengan makanan ekstrem dan makanan tidak sehat sehingga tubuh sudah kebal dari kecil.
Kadang, mitos dan hoaks orang Indonesia kebal virus korona covid-19 dikaitkan dengan kebiasaan orang Indonesia memakan makanan pedas sehingga virus corona tak akan tahan berada dalam tubuh warga plus 62.
Kesombongan Sia-Sia
Komentar-komentar setengah atau bahkan sama sekali bukan ilmiah dari pejabat dan praktisi kesehatan (!) justru menampakkan kesombongan bahwa Indonesia akan terus aman dari wabah corona covid-19.
Baru-baru ini, pejabat tertinggi bidang kesehatan di negeri kita berkomentar bahwa orang Indonesia memiliki imunitas yang baik dan berkat doa, semua akan "baik-baik saja".
Tentu saja, kita meyakini kuasa Tuhan YME dalam melindungi kita. Akan tetapi, berhadapan dengan wabah corona covid-19 yang amat mudah menular, hendaknya logika ilmiah dan pertimbangan medis yang kita kedepankan.
Tuhan YME memberikan akal sehat kepada kita untuk kita gunakan dalam hidup. Terlalu mengandalkan doa tanpa berusaha nyata dalam mencegah wabah corona adalah tindakan kurang bijaksana.
Belum lama ini, direktur RS yang menangani pasien korona di Wuhan meninggal dunia akibat corona. Hendaknya kita ingat, dokter dan tenaga medis pun meninggal karena terjangkit corona covid-19. Orang yang sehat dan berpengetahuan medis pun bisa jadi korban corona, apalagi warga biasa yang kurang sadar menjaga kesehatan. 
Kesombongan yang tercermin dalam ungkapan "orang Indonesia kuat dan kebal corona" hanya akan membawa kita ke dalam situasi pahit. Dengan fakta bahwa tiga WNI kru kapal pesiar positif corona, mitos dan hoaks seputar kekebalan orang Indonesia terhadap covid-19 runtuh seketika.
Etnis mempengaruhi?
Terus terang, saya menyayangkan pula pendapat seorang ahli Indonesia yang mengatakan bahwa virus corona terkait etnis. Ia mengatakan, 99 persen pasien yang terdampak mayoritas merupakan etnis asli China. Ia menduga, corona adalah virus yang menyerang reseptor monoetnis. Orang Indonesia belum terserang karena bukan reseptor yang baik bagi corona.
Meskipun saya tidak berpendidikan dalam pengetahuan medis, saya dengan logika sederhana saja dapat menyangkal pendapat tersebut. 99 persen pasien corona dari etnis Tionghoa tidak dapat menghilangkan fakta bahwa ada 1 persen pasien nonetnis Tionghoa yang juga terjangkit corona.
Fakta adanya 3 WNI terjangkit corona membuktikan bahwa corona bukan virus yang mensyaratkan korbannya dari satu etnis saja. Corona tak meminta korbannya dari etnis tertentu. Corona adalah virus yang terbukti mampu menjangkiti orang dari aneka etnis dan negara. Sudah ada pasien corona yang adalah orang Eropa. 
Bahwa sebagian besar pasien berasal dari China bisa secara logis dipahami karena awalnya virus ini memang muncul dan merebak di China. Seandainya virus ini pertama kali muncul di Jakarta, tentu sebagian besar pasien corona orang Indonesia. Sederhana, bukan?
Suhu atau iklim mempengaruhi?
Seorang pengguna Facebook di Filipina mengklaim bahwa corona tak akan mewabah di Filipina yang suhunya panas. Klaim ini disanggah oleh Rappler.com dengan mengutip keterangan resmi WHO.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum mengatakan bahwa suhu memengaruhi penyebaran corona covid-19. WHO tidak merekomendasikan pajanan (exposure) terhadap panas sebagai perlindungan atau pengobatan untuk virus.
Pada jumpa pers pada 29 Januari, Sekretaris Kesehatan Filipina Francisco Duque III mengatakan bahwa iklim tidak terkait dengan penyebaran 2019-nCoV. "[Tidak] ada laporan atau saran dari WHO mengenai efek itu. Apakah itu kurang menular atau cuaca dingin di China saat ini membantu menyebarkan [virus] adalah spekulasi murni," kata Duque.
Iklim tropis Indonesia tak serta merta memustahilkan persebaran corona. Buktinya, Singapura yang iklimnya sama dengan Indonesia telah mencatat adanya warganya yang terjangkit corona covid-19. Bahkan seorang wanita WNI juga terinfeksi corona dari majikannya di Singapura.
Dua cara penularan corona
Dikutip dari situs resmi CDC (Centers for Disease Control and Prevention), ada dua cara penyebaran corona covid-19:
1. Penyebaran orang ke orang
Virus ini diperkirakan menyebar terutama dari orang ke orang, di antara orang-orang yang berhubungan dekat satu sama lain (dalam jarak sekitar 6 kaki atau 1,8 meter).
Juga melalui tetesan pernapasan (respiratory droplets) yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Tetesan ini dapat mendarat di mulut atau hidung orang-orang yang berada di dekatnya atau mungkin terhirup ke dalam paru-paru.
2. Menyebar dari kontak dengan permukaan atau benda yang terinfeksi
Mungkin saja seseorang bisa mendapatkan COVID-19 dengan menyentuh permukaan atau benda yang memiliki virus di atasnya dan kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mata mereka sendiri, tetapi ini tidak dianggap sebagai cara utama virus menyebar.
Semoga bermanfaat. Salam sehat. Semoga tiga WNI yang terjangkit corona segera pulih. 
BAGIKAN SEGERA WhatsApp

SARAN DARI KAMI

Posting Komentar